Rekonstruksi Wacana Turats

16 01 2009

(Usaha Mencari Akar-akar Polemik seputar Tradisi Islam)

Asif Trisnani

Pendahuluan

Ketika suatu tradisi (turats) didefinisikan, tidak boleh diasumsikan seakan-akan ia memiliki suatu kehidupan yang lepas dari pengemban-pengemban manusianya. Pengharapan-pengharapan budaya yang diwariskan pada masa tertentu membentuk bagian dari realitas-realitas yang harus diperhitungkan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. Masyarakat tersebut tidak akan punya pengaruh apapun kecuali manakala mereka berinteraksi dengan lingkungan yang sebenarnya dan dengan kepentingan-kepentingan yang berlaku. Perlu diingat, bahwa determinasi turats selalu dibatasi-dalam waktu yang lama-oleh kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa relevan dengan kondisi-kondisi yang ada.

Relevansi yang berkesinambungan sangat penting untuk diingat terutama ketika sedang membuat perbandingan lintas turats yang berlaku di suatu masa dan tempat tertentu, sehingga bisa dikatakan, bahwa setiap generasi membuat sendiri keputusan-keputusannya. Suatu tradisi boleh jadi tidak terikat oleh pendahulunya, meskipun harus berhadapan dengan konsekuensi-konsekuensi sikapnya tersebut.

Perubahan historis bersifat terus-menerus dan semua turats (termasuk turats Islam) harus terbuka serta selalu bergerak, melalui keniscayaan fakta bahwa mereka selalu dalam keseimbangan internal. Buah pikiran manusia selalu menyelidik garis tepi dari apa yang mungkin pada saat ini. setiap turats harus secara teratur diperkuat oleh kondisi-kondisi yang ada, sehingga mampu menjawab kepentingan-kepentingan yang sedang berlangsung. Kiranya penulis berpendapat bahwa perlunya perangkat rekonstruktif dan kritis terhadap wacana turats yang merupakan wajah Islam masa lalu. Sementara banyak sekali pertanyaan-pertanyaan seputar turats yang perlu kita perhatikan, diantaranya: benarkah turats Islam itu yang membawa masyarakat Islam terbelakang dan tertinggal dari peradaban yang lain? ataukah sebaliknya, orang-orang Islam sendiri yang tidak mampu berinteraksi dengan turatsnya? Bagaimana pandangan umat Islam terhadap pembaruan? Dalam melihat realitas modern, apakah kita perlu potong kompas dalam liberalisasi dan pembaruan tersebut, dengan meninggalkan turats Islam? ataukah justru kita perdalam pemahaman kita terhadap turats sehingga nampak jelas peta peradaban kita? Tulisan yang singkat dan sederhana ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sekilas Tentang Turats

Pembahasan tentang turats sebenarnya merupakan pembahasan yang rumit karena belum adanya limiting interpretation yang melingkari dasar-dasar penerjemahannya. Namun untuk menemukan peta pembahasan sekiranya perlu diangkat beberapa interpretasi tentang turats. Pertama, turats dapat diartikan sebagai taqlid, adat, suluk dari sebuah komunitas tertentu. Kedua, ada yang mengartikan bahwa turats adalah tradisi yang tertulis atau aktifitas-aktifitas normatif yang telah ditinggalkan oleh orang-orang terdahulu dalam hal: filsafat, Tasawuf, Usuluddin dan Fikih (ilmu-ilmu rasional tekstual). Juga Ulum al-Qur’an, Ulum al-Hadits, Hadits Nabi Saw, dan Tafsir (ilmu-ilmu tekstual ). Juga ilmu-ilmu Matematika, Tabi’ah, Falak, Geografi dan Sejarah (ilmu-ilmu rasional). Ketiga, ada yang mengartikan bahwa turats adalah tradisi oral seperti: kisah, dongeng, gurindam yang bersandar pada sumber-sumber majhul (tak jelas). Sehingga dari beberapa pendapat mengenai arti turats di atas dapat diambil garis global bahwa turats adalah sebuah tradisi tertentu dari sebuah komunitas tertentu yang ditinggalkan oleh pendahulunya, atau secara singkat turats adalah ‘tradisi’. Dan turats Islam berarti adalah tradisi Islam terdahulu. Sehingga wacana turats Islam adalah merupakan deskripsi umum tentang seluruh variabel yang berkenaan dengan tradisi Islam yang terdahulu. Proses rekonstruksi merupakan upaya telaah ulang dan membangun kembali paradigma kita terhadap turats Islam yang dapat berisikan kritik atau sebaliknya merupakan pengukuhan terhadap turats yang kemudian disinggungkan kepada realitas sejarah masa yang sedang kita alami.

Wacana Turats dan Wacana Agama

Sebelum masuk pada diskursus pembahasan wacana turats Islam (al-khithab al-turatsiy), perlu sekiranya kita angkat sedikit tentang wacana agama (al-khithab al-diniy) yang banyak digemborkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid.[1] Kalau dalam bukunya: Naqd al-khitab al-diniy ia membedakan antara “pemikiran agama” dengan “agama” itu sendiri, maka pembahasan inipun layak untuk mengangkat permasalahan di atas, yaitu mencari titik terang perbedaan antara “pemikiran turats” dengan “turats” itu sendiri (dzat al-turats) sehingga nampak sekali dalam bukunya tersebut Nasr mencoba mencari solusi yang berdiri atas dasar ‘pembedaan’ yang jelas antara pemikiran agama dan agama, atau dengan kata lain, antara pemahaman nushush dan ta’wilnya dengan dzat nushush itu sendiri, dan usaha pembedaan ini adalah usaha pemahaman yang obyektif terhadap nushush dan bukannya pembatasan, menempatkan agama pada tempatnya yang benar di kalangan masyarakat.[2] Maka proyek rekonstruksi wacana turats ini dirasa hampir selaras dengan apa yang dilakukan Nasr dalam bukunya tersebut, yaitu usaha mencari solusi yang berdiri atas dasar ‘pembedaan’ antara pemikiran turats dan turats itu sendiri, karena dalam wacana turats masih berkembang hal-hal sebagai berikut:[3]

  1. Turat merupakan hal yang suci yang tak mungkin dibahas oleh manusia atau akal.
  2. Turats memiliki nilai pada dzatnya, sedangkan nilai itu tidak akan didapatkan dengan mengkritiknya.
  3. Turats merupakan tujuan.

Sehingga dengan prespektif yang sedemikian terhadap turats, mengakibatkan turats dan agama menjadi satu kesatuan. Saya sepakat bahwa ada unsur-unsur kesucian dalam turats, karakter pada turats mencirikan karakter agama, karena hal tersebut akan mengikat kita pada pembahasan dimensi tertentu pada turats, tetapi saya boleh tidak sependapat seandainya agama kita letakkan satu dan lebur dalam turats, sehingga kritik obyek turats adalah kritk obyek agama. Sebagaimana kembali pada awal, perlu adanya peta pembedaan yang jelas antara turats dan agama.

Ada beberapa trend atau cara pandang terhadap turats yang dipakai Hassan Hanafi,[4] sekedar sebagai acuan dalam melihat wacana turats tersebut:

1. Trend Teoritis

Konsep dari sebuah trend yang berusaha menanamkan rasa loyalitas terhadap turats, tetapi tidak untuk membuat semakin menguatnya identitas tradisi (turats) tersebut, tetapi dalam dataran teoritis, terbukanya wacana adanya hubungan yang sinergis antara turats dan pembaruan, antara turats dan liberalisasi, antara turats dan pencerahan. Maka ketika merasakan adanya penjajahan (isti’mâr) terhadap turats, yang pertama kali dimunculkan adalah menjadikan turats sebagai identitas dan pedoman (al-tamassuk bi al-turats). Hal tersebut dapat kita analogikan ketika ada sebuah penjajahan atau ekspansi terhadap sebuah negara, maka pertama yang harus dimunculkan oleh negara tersebut adalah gaerah nasionalisme melawan penjajah.

2. Trend Tradisional

Sebuah trend yang menggunakan metodologi penanaman identitas turats klasik dengan mempertahankan konsep ideologis yang berkembang di masyarakat, sehingga hal tersebut memunculkan pertanyaan: Apakah liberalisasi akan menunjukkan hilangnya sensitifitas kesucian agama? Secara konseptual liberalisasi mencoba mengkikis habis struktur wacana tradisonal yang termasuk di dalamnya paradigma tentang warisan-warisan klasik, sehingga model penafsiran klasik terhadap teks Agama dianggap tidak relevan. Jelas, bahwa ini merupakan upaya menghilangkan nuansa sensitifitas tersebut, akibatnya kitab suci bukan lagi sebuah pegangan, melainkan sekedar obyek wacana.

3. Trend Marxis

Dalam trend ini kita dapat memunculkan tokoh Murad Wahbah, yang mana ia pernah menulis sebuah pembahasan yang berjudul al-aqlu wa al-tsaurah (akal dan revolusi) yanga berusaha menjadikan akal sebagai landasan dasar atas revolusi dan perspektif rasional sebagai syarat liberalisasi. Hal tersebut dapat kita timbang dengan marxismenya Hegel yang berdiri atas dasar ‘evolusi dengan metodologi akal’ pada hal perlu diingat bahwa akal itu sendiri bukanlah yang menyebabkan revolusi, akan tetapi akal hanya sekedar yang melahirkan kesadaran akan revolusi ( wa’yun tsauriyun) [5]

4. Trend Liberalis

Pada hakekatnya trend ini berusaha mengikat antara turats dan konsep liberalisasi dengan penjelasan mekanisme transformatif pada sebuah komunitas tertentu.[6] Katakanlah perlu adanya kejelasan proses dari turats menuju liberalisasi pada hubungannya dengan komunitas lain. Sementara pada sisi lain pencerahan adalah perpindahan dari turats menuju liberalisasi atau dari yang lalu menuju kekinian atau dari yang kuno menuju yang baru. Ini terjadi pada abad ke-3 masehi, tepatnya pada masa Mu’tazilah, dimana mereka adalah sampel pertama dalam wacana Islam yang dapat mempertahankan turats dalam menampilkan peran kontemporer.

Turats dan Identitas Peradaban Islam

Dalam wacana peradaban Islam, kita seringkali rancu dalam menemukan otentisitas turats Islam. Acapkali pemahaman kita tentang turats hanya perpusat pada apa yang terjadi pada zaman sekarang, atau dengan kata lain, turats yang kita pahami adalah turats yang sudah mengalami perubahan, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut mutlak adanya. Logika ini bisa diterima ketika mencoba mencari identitas turats Islam. Dr. Yusuf Qardlawi membagi turats dalam dua macam: turats manqul dan turats ma’qul. Turats manqul adalah turats yang ditinggalkan tanpa adanya perubahan aslinya (Alqur’an, Sunnah dan Sejarah) sementara Turats ma’qul adalah turats seteleh mengalami perubahan baik melalui interpretasi maupun pemahaman ( ilmu-ilmu Islam klasik, tradisi, norma dan lain-lain). Barat sering kali berhenti pada korider kedua, artinya identitas Peradaban Islam Versi barat adalah peradaban yang berkembang pada masa sekarang. Perlu kita lihat bahwa ada dua hal perubahan yang terjadi dalam peradaban Islam, pertama, proses interpretasi turats awal dengan tidak melepaskan diri pada sumber aslinya, kelompok ini cenderang berpegang teguh pada turats awal tersebut. Kedua, kelompok yang cenderung melepaskan diri dari turats aslinya, misalnya, ketika jargon liberalisasi digulirkan, kelompok ini berpendapat bahwa turats-turats Islam itu memasung kreatifitas sehingga jalan satu-satunya untuk membangun peradaban baru adalah melepaskan diri dari turats.

Beriring dengan pendapat Qardlawi, Jamal Sulthan membagi turats menjadi tiga: al-turats al-dîniy (turats agama), al-turats al-fikriy (turats pemikiran) dan al-turats al-wijdâniy (turats emosional).[7] Secara direksional khusus, turats agama menurutnya adalah fiqh al-Islam yang memiliki karakteristik adanya dimensi ketuhanan yang melekat pada sumbernya. Begitu juga dicirikan adanya metodologi khusus – dalam teori, evaluasi yang termasuk di dalamnya nilai-nilai syar’i dan lain-lain — yang erat hubungannya dengan doktrin agama. Sementara turats pemikiran (secara umum), adalah masuk pada lingkaran yang tidak tunduk pada batasan-batasan turats agama, yangmana dicirikan dengan adanya dimensi rasional secara luas pada sumbernya dalam teori dan proses evaluatif. Sehingga bidang garapannya cenderung pada masalah-masalah yang tertuang dalam ilmu-ilmu filsafat, sejarah, materi-materi eksperimen dan lain sebagainya. Sedangkan turats emosional, didominasi oleh masalah seni dan adab yang erat hubungannya dengan jiwa manusia yang melekat pada identitas agama dan aqidah, juga ekspresi keindahan dan nuansa seni.[8] Namun dengan bahasa yang sederhana dalam pembagian ini, Jamal sulthan mereduksi pembagian tersebut menjadi dua – sejalan dengan Qardlawi – menjadi: al-turats al-islamiy dan al-wahyu.[9] Hal tersebut cukup rasional, ketika disadari bahwa turats Islam adalah merupakan produk kemanusian, yang tak terlepas dari dimensi ruang dan waktu, melebur dengan ide-ide manusia, sementar Wahyu benar-benar terlepas dari dimensi ruang dan waktu, melebur dengan Dzat ketuhanan. Dan dalam tataran realita, turats Islam sendiri tidak terlepas dari wahyu sebagai sumber awalnya, sehingga oleh banyak kalangan perlu adanya usaha diferensiasi antara hal yang bersifat agama dan turats sebagai ekspresi keagamaan.

Ada sebuah wacana yang muncul, bahwa turats merupakan tujuan bukan pelantara, artinya ketika jargon kemajuan masyarakat digulirkan, maka batasan-batasan normatif yang ada pada turats tidak dapat diabaikan, karena Turats memiliki nilai pada dzatnya, sedangkan nilai itu tidak akan didapatkan dengan merubah dan mengabaikannya. Sehingga proses perkembangannya akan terus mengacu dan seiring dengan ide-ide dasar turatsnya. Hanya saja, hal tersebut banyak mengakibatkan munculnya medan-medan garapan yang sulit dihilangkan, sehingga oleh banyak kalangan hal tersebut mengakibatkan terpasungnya kreatifitas beragama. Lain kalau sebaliknya, turats dijadikan sebagai pelantara, maka proses dan realita apapun yang dilakukan akan selalu disetarakan dengan tidak merubah dasar-dasar nilai turats tersebut. Ide kembali kepada turats mutlak adanya dalam menghadapi zaman, akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah metodologi menghadirkan sesuatu ‘yang lalu’ tersebut dalam dunia kekinian tanpa menghilangkan kesan-kesan dasar pada turats.

Kerancuan yang lain, bahwa masing-masing kita masih berbeda dalam membatasi identitas turats Islam. Jamal Sulthan sendiri mencirikan bahwa identitas turats Islam adalah turats yang benar-benar bebas dan bersih dari turats ‘yang lain’. Turats yang benar-benar ada hubungan sinergis dengan sumber sucinya, sementara Hassan Hanafi dan Abid Jabiri lebih menekankan ciri tersebut pada realitas kekinian, bahwa turats Islam itu adalah turats yang hidup dan terus baru, sehingga identitas ini akan terus berkembang sesuai dengan perubahan yang dialami. Kerancuan wacana ini sebenarnya dapat kita hindari seandainya kita mampu membedakan antara: hakekat dan identitas, inti dan ciri, dzat dan sifat.

Turats dan Pembaruan (Tajdid)

Dalam masalah turats, wacana yang berkembang selanjutnya adalah konsep-konsep dasar pembaruan (tajdid) yang tentunya pada satu sisi wacana ini mengalami persinggungan keras dengan pengusung wacana ‘kembali kepada turats’ walaupun sebenarnya secara konseptual tidak ada persinggungan. Maka ketika kita berbicara masalah turats dalam perspektif kontemporer, tentunya kita tidak akan terlepas dari Hassan Hanafi, yang dalam karya-karyanya selalau menyinggung masalah turats Islam. Ia punya pengaruh cukup besar dalam paradigma berpikir tentang turats terutama dalam dunia filsafat. Bahkan ketika berbicara masalah interaksi dengan turats ia membaginya menjadi tiga, yaitu, al-turâts al-qadîm (turats lama), al-turâts al-gharbi (turats barat) dan al-wâqi (realita). Namun kalau kita merujuk pada awal dasawarsa 1960-an ketika Ia sedang berada di Perancis, Hanafi dalam pengembaraan keilmuannya banyak menekuni bidang-bidang filsafat dan ilmu sosial dalam kaitannya dengan hasrat dan usahanya untuk melakukan rekonstruksi turats pemikiran Islam (turâts al-fikriy al-Islâmi). Untuk tujuan rekonstruksi itu, selama berada di Perancis ia mengadakan penelitian tentang metode interpretasi sebagai upaya pembaruan bidang ushul fikih (teori hukum Islam, Islamic legal theory) dan tentang fenomenologi sebagai metode untuk memahami agama dalam konteks realitas kontemporer.

Kemudian ia menulis buku yang berjudul: Qadhâya Mu’âshirat fî Fikrina al-Mu’ashir. Buku ini memberikan deskripsi tentang realitas dunia Arab saat itu, analisis tentang tugas para pemikir dalam menanggapi problema umat, dan tentang pentingnya pembaruan pemikiran Islam untuk menghidupkan kembali khazanah tradisional Islam. Kemudian, pada tahun 1977, kembali ia menerbitkan Qadhaya Mu ‘ashirat fi al Fikr al-Gharb. Buku kedua ini mendiskusikan pemikiran para sarjana Barat untuk melihat bagaimana mereka memahami persoalan masyarakatnya dan kemudian mengadakan pembaruan. Kedua buku itu secara keseluruhan merangkum dua pokok pendekatan analisis yang berkaitan dengan sebab-sebab kekalahan umat Islam; memahami posisi umat lslam sendiri yang lemah, dan memahami posisi Barat yang superior. Untuk yang pertama penekanan diberikan pada upaya pemberdayaan umat, terutama dari segi pola pikirnya, dan bagi yang kedua ia berusaha untuk menunjukkan bagaimana menekan superioritas Barat dalam segala aspek kehidupan. Kedua pendekatan inilah yang nantinya melahirkan dua pokok pemikiran baru yang tertuang dalam dua buah karyanya, yaitu Al-Turats wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan), dan Al-Istighrab (Oksidentalisme). Sementara itu pada sebuah Dirasat Islamiyyah, yang ditulis sejak tahun 1978 dan terbit tahun 1981, memuat deskripsi dan analisis pembaruan terhadap ilmu-ilinu keislaman klasik, seperti ushul fikih, ilmu-ilmu ushuluddin, dan filsafat. Dimulai dengan pendekatan historis untuk melihat perkembangannya, Hanafi berbicara tentang upaya rekonstruksi atas ilmu-ilmu tersebut untuk disesuaikan dengari realitas kontemporer.

Selanjutnya, ia menulis Al-Turats wa al-Tajdid yang terbit pertama kali tahun 1980. Buku ini merupakan landasan teoretis yang memuat dasar-dasar ide pembaharuan dan langkah-langkahnya. Kemudian, menulis Al- Yasar Al-lslamiy (Kiri Islam), sebuah tulisan yang lebih merupakan sebuah “manifesto politik” yang berbau ideologis.

Jika Kiri Islam baru merupakan pokok-pokok pikiran yang belum memberikan rincian dari program pembaruannya, buku Min Al-Aqidah ila Al-Tsaurah (5 jilid), yang ditulisnya selama hampir sepuluh tahun dan baru terbit pada tahun 1988. Buku ini memuat uraian terperinci tentang pokok-pokok pembaruan yang ia canangkan dan termuat dalam kedua karyanya yang terdahulu.

Pada sisi lain, paradigma universalistik yang diinginkan, harus dimulai dari pengembangan epistemologi ilmu pengetahuan baru. Orang Islam tidak hanya sekadar menerima dan mengambil alih paradigma ilmu pengetahuan modern Barat yang bertumpu pada materialisme, melainkan juga harus mengikis habis penolakan mereka terhadap peradaban ilmu pengetahuan Arab. Seleksi dan dialog konstruktif dengan peradaban Barat itu dibutuhkan untuk mengenal dunia Barat dengan setepat-tepatnya. Dan upaya pengenalan itu sebagai unit kajian ilmiah, berbentuk ajakan kepada ilmu-ilmu kebaratan (al-Istighrab, Oksidentalisme) sebagai imbangan bagi ilmu-ilmu ketimuran (al-Istisyraq, Orientalisme). Oksidentalisme dimaksudkan untuk mengetahui peradaban Barat sebagaimana adanya, sehingga dari pendekatan ini akan muncul kemampuan mengembangkan kebijakan yang diperlukan kaum muslimin dalam ukuran jangka panjang.

Turats dan Liberalisasi (Taharrur)

Wacana selanjutnya adalah liberalisasi. Wacana ini tidak dapat terlepas dengan proses pencerahan pada abad-18 masehi. Secara terperinci dalam proses pencerahan perlu enam perangkat: akal, kebebasan, tabiat, manusia, masyarakat, sejarah.[10] Maka kalau kita sudah memahami konsep dasar antara turats dan taqaddum dengan prespektif trend yang sudah tersebut diatas, maka paling tidak kita sudah keluar dari lingkaran perdebatan yang terjadi antara barat dan Islam.[11] Lebih lanjut, seandainya proses modernisasi adalah perpindahan dari turats kepada liberalisasi atau dengan kata lain seandainya turats dalam sebuah peradaban apa saja berpusat pada ‘tuhan’, maka modernisasi adalah perpindahan kepada pusat yang lain, yaitu manusia. Dan liberalisasi adalah perpindahan (kembali) kepada pusat awal yaitu ‘tuhan’. Seandainya turats itu berpusat pada masalah agama, maka modernisasi adalah perpindahan kepada masalah duniawi. Dan apabila disana ada turats yang berpusat pada masalah duniawi, maka modernisasi adalah perpindahan kepada masalah agama, dan seterusnya.[12]

Turats adalah bagian dari realita dan komponen pembentuk dari sebuah komunitas, maka tentunya turats masih selalu menghukumi norma-norma masyarakat dan menampilkan deskripsinya dalam jangka waktu yang cukup panjang. Komunitas Arab memiliki kelebihan sebagai komunitas turats yang belum terlepas dari masa lampaunya. Dan ini terkesan seakan turat adalah jism mayyit ( jasad yang mati),[13] maka dari itu interaksi dengan turats harus memperhatikan dan menyempurnakan dasar-dasar intern syari’ahnya, serta reinterpretasi dalam mengahadapi problematika pemikiran dan ideologi kekinian.

Pembacaan kembali turats Islam harus mampu membedakan di dalammnya antara dimensi yang mengacu pada perkembangan dan pencerahan, juga pada dimensi yang merintangi draft atau proyek pembaruan dan modernisasi.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Telaah Turats Islam menyongsong liberalisasi:

  1. Perpindahan sebuah pemikiran kepada sebuah realita, turats kepada kehidupan, filsafat kepada tesa, dan ilmu kepada aksi
  2. Memberikan perlawanan terhadap ‘yang dianggap musuh’ baik dari dalam maupun dari luar
  3. Memunculkan turats masyarakat dan turats maslahat
  4. Harus membedakan antara komunitas elit dan umum

Berangkat dari sinilah maka perlu adanya jargon rekonstruksi ilmu-ilmu klasik Islam, seperti: ilmu kalam, filsafat, tasawuf dan usul. Yang mana harus memperhatikan adanya penegakan sosiologis historis pemikiran Islam untuk menyingkapi akar-akar sosio-ideologi dalam masalah-masalah teologi dan kebudayaan. Bahkan perpindahan ilmu-ilmu turast (klasik) kepada ilmu-ilmu humanistis hanya merupakan permisalan posisi kebanyakan radikalisme yang menyembunyikan dalam perpindahan dari ilmu sosial kepada solusi norma masyarakat atau dari ilmu-ilmu humanistis kepada budaya nasionalisme kepada revolusi sosial dan politik.[14] Atau dengan kata lain, sesungguhnya proyek turats dan liberalisasi dalam tataran akhir merupakan pergeseran dari ilmu-ilmu peradaban kepada ideologi atau secara sederhana berarti pergeseran dari wahyu kepada ideologi.[15]

Sesungguhnya permasalahan liberalisasi tidak hanya sekedar menemukan bentuk kebebasan reinterpretasi turats untuk menyesuaikan zaman, sehingga terkesan turats adalah wasilah (pelantara) dan liberalisasi adalah ghoyah (tujuan) atau turats adalah daftar isi sedangkan liberalisasi adalah matan (isi). Sementara kita harus menyadari bahwa turats pada satu sisi adalah tujuan yang harus diwujudkan akan tetapi proses menuju ‘wujud’ memerlukan penguasaan turats tersebut dengan variabel penunjangnya yaitu ilmu pengetahuan, sejarah dan ideologi yang berkembang di dalamnya. Kita melihat bahwa kegagalan sekulerisme dan liberalisme dalam Islam, hal tersebut dapat disebabkan:

1. Gerakan tersebut terputus dari turatsnya, sementara di barat, berhasil karena adanya hubungan sinergis antara gerakan sekularisaasi barat dengan turatsnya

  1. Adanya bangunan fanatisme yang sangat kuat dalam masyarakat, sehingga semakin menguatnya identitas sebuah masyarakat akan semakin keras benturan yang akan ditimbulkan. Hassan Hanafi menegaskan perlu adanya perangkat ilmu istighrab dan mewujudkan kesinambungan pengetahuan antara turats dan barat.[16] Di sini upaya mempertahankan identitas Islam adalah merupakan respon atas liberalisasi yang sekarang menjamur di wilayah elit intelektual, sehingga diharapkan tidak merembet ke wilayah grassroot.

Abid Jabiri mengkritik gerakan liberalisasi disebabkan adanya pertentangan posisi Arab (Islam) terhadap barat. Pertentangan itu adalah bahwa dalam satu sisi barat merupakan pengibar bendera kebebasan, demokratisasi, tekhnologi, pengusung HAM, dan lain-lain, namun pada sisi yang lain barat adalah penjajah masyarakat, perampas kekayaan, manipulasi perdagangan dunia dan lain -lain.[17]

Salah satu hal yang perlu dikikis ketika berpikir tentang turats adalah taqlid, hal tersebut karena taqlid merupakan pengingkaran terhadap akal dan tanggung jawab seseorang atas pentingnya pembaruan, perkembangan, dan perubahan. Taqlid adalah pengabaian ‘sekarang’ dan ‘yang akan datang’ atas nama ‘yang lalu’ ( bismi al-madli).

Penutup

Apapun wacana yang berkembang, sebenarnya dalam tataran realita, turats masih selalu melekat erat dalam diri masyarakat dan masih merupakan variabel utama bagi pembentukan peradaban umat. Turats masih merupakan pijakan dasar yang selalu kita pakai dalam segala hal. Karena kita adalah ‘komunitas turats’. Turatslah yang memberikan kepada kita gambaran tentang alam dan memberikan direksional norma-norma. Turats bukan hanya yang tertulis saja, tapi hampir menyangkut semua aspek kehidupan kita. Dan perlu kita sadari bahwa ini adalah ‘realita kita’. Maka seandainya kita tutup mata akan hal ini semua, kita tidak akan pernah menjadi pemikir yang realistis, karena turats bagi kita adalah sebuah realita. Sehingga kalau kita terbawa arus wacana pembaruan, modernitas, liberalisasi yang sesungguhnya terlepas dari turatsnya, maka berarti kita benar-benar keluar dari dunia realita, dan berada pada ‘alam yang lain’. Wisss..


[1] Nasr Hamid Abu Zaid, Naqdu al-khitab al-dîniy, Maktabah Matbuli, Kairo, 1995

[2] Ibid. hal. 31

[3] Dr. Ahmad Abd. Halim Atiyah, Jadal Ana wa al-âkhar, Madbuli Shaghir, Kairo, cet. I, 1997

[4] Hassan Hanafi, al-dîn wa al-tsaurah, Vol. II, Maktabah Madbuli, Kairo, hal. 68-73

[5] Ibid. hal. 72

[6] Ibid. hal. 73

[7] Jamal Sulthan, al-Gharah ‘ala al-turâts al-Islâmiy, Maktabah al-Sunnah, Kairo,cet.I, 1990, hal.20-21

[8] Ibid. hal. 21

[9] Ibid. hal. 22

[10] Hassan Hanafi,Loc.it, hal. 73

[11] Ibid. hal. 76

[12] Ibid .hal. 77

[13] Lihat Hassan Hanafi, Mauqifuna al-hadlariy, sebuah manuskrip yang dipresentasikan pada mu’tamar filsafat Arab pertama yang diselenggarakan oleh Unv. Ordun (Beirut, Pusat Studi Uni Arab, 1985) hal.16, catatan kaki

[14] Hassan Hanafi, Turats wa tajdid, Madbuli, Kairo, 1980, hal.22

[15] Ibid. hal. 14

[16] Ibid. hal.85

[17] Abid Jabiri, al-Khitab al-Arabiy al-Muashir, Daar Thali’ah, Beirut, Lebanon, cet. III, 1988, hal.56


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: