Rekonstruksi Pemikiran Islam

15 01 2009

(Telaah Historik Atas Paradigma Pembaharuan Islam Muhammad Iqbal)

Oleh: Rif’at Husnul Ma’afi

A. Mukaddimah

Pembaharuan Islam atau tajdid[1] merupakan sebuah paradigma berpikir dalam khzanah keislaman yang akhir-akhir ini menjadi perdebatan di kalangan para intelektual Muslim. Paradigma ini sebetulnya telah muncul pada beberapa abad yang telah silam. Hanya saja dalam perkembangannya ia tidak difungsikan lagi sebagaimana semestinya. Ia yang seharusnya difungsikan sebagai upaya untuk merombak dan menafsirkan ajaran Islam yang tertuang di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah secara kontekstual, pada kenyataannya hanya difahami secara tekstual. Akibatnya muncullah stagnasi pemikiran Islam[2].

Kenyataan ini tampaknya telah berlangsung semenjak abad kesembilan yang lampau di mana umat Islam di dalam menyelesaikan berbagai persoalan keagamaan maupun yang lainnya hanya mengacu secara monoton pada normativitas wahyu semata. Mereka mengabaikan aspek historisitas kenabian yang lebih menekankan pada adanya pelibatan aspek sosio-kultural. Padahal dalam studi keagamaan sebagaimana yang dianulir Amin Abdullah, bahwa di antara keduanya tidak boleh terpisahkan. Sebab kalau sampai terjadi pemisahan antara normativitas wahyu dengan historisitas kenabian, maka yang akan terjadi adalah kesalahfahaman (misunderstanding) dalam menginterpretasikan nilai-nilai ajaran Islam yang telah tertuang dalam al-Qur’an dan al-Sunnah yang pada akhirnya bisa membawa pada kejumudan pemikiran[3]

Fenomena ini tampaknya dipicu oleh adanya isu tentang ditutupnya pintu ijtihad[4]. Ijtihad yang seharusnya dijadikan sebagai paradigma berpikir, tapi justru dijadikan sebuah phobi di dalam mengembangkan sebuah pemikiran. Implikasinya, umat Islam mengalami kejumudan, kestatisan, kefatalismean, dan meninggalkan bahkan tidak percaya pada kemampuan akal. Dalam kondisi tersebut, mereka hanya taqlid secara totalistik kepada pendapat para ‘ulama tempo dulu, serta mereka lebih banyak memusatkan perhatiannya pada ritual keagamaan dan keakhiratan (eskatologis) semata. Mereka lebih cenderung meninggalkan kehidupan duniawi dan melupakan sejarah yang telah dibangun nenek moyangnya pada beberap abad yang lalu[5].

Menyikapi kondisi semacam ini, Iqbal sebagai salah satu pemikir Islam Pakistan abad keduapuluhan, tampaknya merasa terpanggil untuk ikut di dalam membangunkan kondisi umat Islam yang tengah dihantui penyakit phobi tersebut. Dia mengusulkan akan urgensi ijtihad sebagai sebuah paradigma berpikir di dalam membangun pemikiran umat Islam yang tengah dilanda kejumudan dan kefatalismean[6]. Makanya wajar apabila ia mengkritik secara tegas terhadap penutupan pintu ijtihad:

“Penutupan pintu ijtihad, hanyalah sebagai sebuah fiksi semata yang di satu pihak disebabkan oleh adanya kristalisasi pemikiran – khususnya dalam masalah hukum Islam. Di pihak lain, disebabkan oleh adanya kemalasan (intellectual laziness) – khususnya dalam fase kebangkrutan spiritualitas – yang telah merubah pemikir-pemikir besar menjadi berhala-berhala.[7]

Dari urgensi paradigma ijtihad tersebut, tampaknya Iqbal menjadikannya sebagai landasan berpikir (the basic thingking) dalam mengadakan pembaharuan di berbagai lini kehidupan. Dia dengan paradigma ijtihadnya, berupaya mengadakan pembenahan-pembenahan baik di bidang hukum, politik, filsafat, maupun kenegaraan. Dari berbagai gagasannya yang cemerlang tersebut, membuat nama Iqbal populer di kancah perhelatan para pemikir Islam, mulai tempo dulu hingga dewasa ini.

B. Seputar Biografi Muhammad Iqbal.

Muhammad Iqbal dilahirkan pada tanggal 3 Dzulqaidah 1294 H/ 9 November 1877 M di Sialkot[8], salah satu kota tertua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir. Ia berasal dari keluarga miskin, akan tetapi dengan bantuan beasiswa yang diperolehnya ia mendapat pendidikan yang lebih bagus[9]. Nenek moyangnya berasal dari keturunan golongan Brahmana yang berasal dari Kashmir yang telah menganut agama Islam kira-kira tiga abad sebelum Iqbal lahir. Ayahnya bernama Muhammad Nur, seorang sufi yang salih. Sejak menginjak usia anak-anak, agama sudah tertanam dalam jiwanya. Pendidikan agamanya selain dari orang tuanya, juga didapatkan dengan mengaji kepada Miss Hassan. Di rumah sang guru ini, ia selain belajar mengaji agama juga belajar menggubah sajak[10].

Pendidikan Iqbal bermula di Scottish Mission School di Sialkot. Di sekolah inilah ia mendapat bimbingan secara intensif dari Mir Hassan, seorang guru dan sastrawan yang ahli tentang sastra Persia dan menguasai bahasa Arab. Setelah lulus dari sekolah ini, Iqbal melanjutkan studinya lagi ke Lahore di government college yang diasuh oleh Sir Thomas Arnold[11]. Pada tahun 1899 ia mendapat gelar MA dengan konsentrasi di bidang tasawuf, yang kemudian ia diangkat langsung menjadi dosen bahasa Arab di Oriental College, Lahore[12]. Selepas dari Goverment College, ia atas saran Thomas Arnold meneruskan lagi ke Universitas Cambridge, London. Bidang yang ia tekuni yaitu filsafat moral. Ia mendapat bimbingan dari Jamest Ward dan seorang Neo-Hegellian yaitu JE. Mac Taggart[13].

Ketika di Eropa, ia juga belajar di Universitas Munich, Jerman. Ia mendapat gelar Doktor dengan desertasinya yang berjudul “The Development of Methaphysies In Persia” pada tanggal 4 November 1907 di bawah bimbingan F. Homenel[14]. Selepas studinya di Eropa, ia kembali lagi kuliah di School of Political Sciences[15]. Setelah mendapat gelar Doktor ia kembali lagi ke Lahore dan bekerja sebagai pengacara di High Cort, Punjab Lahore. Namun, kemudian dilepaskannya karena ia aktif di dalam praktek hukum[16].

Semasa kuliah, ia sering mengunjungi dan berdialog dengan sejumlah filosof besar sezamannya. Dan selama di Eropa, ia dapat menyaring secara kritis pemikiran-pemikiran Barat yang membuatnya tidak hanyut ke dalam pusaran peradaban Barat. Berbekal dari sejumlah keahlian, ia memulai karirnya sebagai dosen dan pengacara di India. Ia juga aktif dalam masalah politik. Selebihnya, ia sering memberikan ceramah ke seluruh bagian negara India dan bahkan ke negara-negara Islam. Tentu saja di sini disertai pembacaan sajak yang sempat menggugah dan membangkitkan semangat tinggi atas cita-cita ajaran Islam. Selain itu ia juga sangat produktif dalam hal menulis terutama yang berbentuk lirik puisi[17].

Pada tahun 1926, ia ikut mencalonkan diri sebagai dewan perwakilan Punjab dan pada tahun 1930 terpilihlah ia sebagai Presiden Liga Muslimin. Berikutnya tahun 1930, yakni pada saat sidang Liga Muslimin di Alahabat, ia mengemukakan tentang gagasan adanya penyatuan moral dan politik umat Islam India dalam kesatuan budaya dan wilayah (the unity of culture and countries) yang kelak menjadi embriologi berdirinya negara Pakistan[18]. Sebelum gagasan negaranya tersebut terealisir, Iqbal keburu meninggal dunia, tepatnya pada tanggal 18 April 1938.

Dari ilustrasi singkat di atas, dapat kita fahami bahwa Iqbal merupakan salah seorang pemikir Islam yang memiliki cakrawala pemikiran dan intelegensia yang luar biasa. Ia selain dikenal sebagai seorang filosof, politikus, dan spiritual, ternyata juga dikenal sebagai seorang penyair. Dan bakat yang terakhir inilah, yaitu sebagai seorang penyair, merupakan suatu bakat alam yang tidak banyak dimiliki oleh para pemikir Muslim yang lainnya[19].

C. Karya Muhammad Iqbal.

Dilihat dari keeksistensian Iqbal sebagai seorang pemikir Islam ulung, tentunya banyak karya tulis yang dihasilkannya. Selain ada yang berbentuk puisi, prosa, surat-menyurat sebagai jawaban orang lain yang mengkritiknya atas berbagai konsep, juga ada yang berbentuk pengantar karya orang lain. Dalam pemakaian bahasa, ia lebih cenderung mengekspresikan gagasan-gagasannya yang bervariasi. Seperti dalam bahasa Arab, bahasa Urdu, bahasa Persia, dan bahasa Inggris[20].

Dari beberapa karyanya, dapat kita lihat sebagaimana yang tertuang di bawah ini:

1. The Development of Methaphysies in Persia, yaitu sebuah karya hasil desertasinya yang terbit tahun 1908 di London. Tema pokok dari karya ini berkisar pada deskripsi tentang sejarah pemikiran keagamaan di Persia sejak Zoroaster hingga Sufisme Mulla Hadi dan Zabzawar yang hidup pada abad ke-16.

2. Asrar-i Khudi (Rahasia Pribadi) diterbitkan pada tahun 1915. Karya ini merupakan ekspresi puisi yang menggunakan bahasa Persia yang menjelaskan bagaimana seseorang dapat mencapai predikat insan kamil.

3. Rumuz-i Bikhudi (Simbol Peniadaan Diri), diterbitkan pada tahun 1918 di Lahore. Karya ini merupakan kelanjutan pemikiran mengenai insan kamil dalam karya sebelumnya Asrar-i Khudi.

4. Payam-i Masyriq (Pesan dari Timur) yang menggunakan bahasa Persia. Terbit pada tahun 1923 di Lahore. Tema pokok karya ini yaitu menjelaskan tentang cara berpikir Timur, dalam hal ini Islam dan kekeliruan cara berpikir Barat.

5. Bang-in Dara, terbit di Lahore pada tahun 1924. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Urdu, yang artinya yaitu Genta Lonceng. Karya ini bertemakan tentang Nasionalistik dan Patriotik yang bercorak humanistik.

6. Zabur-i ‘Ajam (Taman Rahasia Baru), terbit di Lahore tahun 1927. Karya ini bertemakan tentang konsep makrifat.

7. The Reconstruction of Relegious Thought in Islam. Karya ini merupakan karya Iqbal yang terbesar dalam bidang filsafat dan berbentuk prosa. Karya ini merupakan kumpulan dari beberapa ceramah yang dilakukan di berbagai kota dan perguruan tinggi di India. Pertama kali terbit di London pada tahun 1934[21].

Selain karya-karya Iqbal di atas, sebetulnya masih banyak karya lain yang belum sempat diungkap dalam makalah ini, terutama karya dia dalam bentuk syair.

D. Gagasan Pembaharuan Muhammad Iqbal.

Sebagaimana para pemikir Muslim lainnya, Iqbal merupakan salah seorang pemikir Muslim yang agresif yang secara tegas mengkritik keras-keras munculnya stagnasi pemikiran Islam di kalangan umat Islam. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya sikap umat Islam yang taqlid secara totalistik akibat adanya asumsi ditutupnya pintu ijtihad. Ijtihad yang seharusnya dijadikan sebagai paradigma berpikir di dalam mengembangkan cakrawala pemikiran, justru difahami sebagai suatu hal yang terlalu berani dan bebas dalam menggunakan rasionalitas akal manusia.

Menanggapi masalah ini, menurut Iqbal paling tidak ada tiga hal yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan keterbelakangan dibanding dengan Barat. Pertama, adanya mistisme asketik yang terlalu berlebihan[22]. Menurutnya, mistisisme asketik sangat memperhatikan kepada Tuhan dan hal-hal metafisis lainnya. Hal ini telah membawa umat Islam kurang mementingkan persoalan keduniawian (profanitas) dan kemasyarakatan dalam Islam. Kedua, hilangnya semangat induktif. Menurutnya, semangat Islam pada dasarnya menekankan pada aspek kehidupan yang konkrit yang senantiasa berubah dan berkembang. Oleh sebab itu selama umat Islam setia terhadap semangat mereka sendiri dan menempuh cara-cara induktif dan empirik dalam penelitian sebagaimana pada masa kejayaan Islam, mereka terus maju dalam melakukan penemuan demi penemuan di bidang ilmu pengetahuan[23].

Ketiga, adanya otoritas perundang-undangan secara totalitas yang melumpuhkan perkembangan pribadi dan menyebabkan hukum Islam praktis tidak bisa bergerak sama sekali. Menurutnya, meskipun semua orang Sunni menerima ijtihad sebagai alat perubahan dan kemajuan, namun dalam prakteknya prinsip tersebut dipagari dengan banyaknya persyaratan yang terlalu berat. Sehingga sedikit sekali mereka yang dapat melakukannya. Dengan demikian, maka kekuatan ijtihad yang semula dimaksudkan untuk meliberalisasikan Islam tidak bisa bekerja, dan keluwesan Islam menjadi kekakuan[24].

Untuk mengatasi kondisi semacam ini, maka umat Islam harus mempunyai suatu filsafat hidup yang dapat membangkitkan mereka dari tidurnya dan membuka mata mereka bagi suatu pandangan yang lebih cerah dan lebih progresif. Dengan menganjurkan untuk mengambil sikap dinamis masyarakat Barat, Iqbal mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang menekankan pada perbuatan, bukannya pada gagasan. Statement inilah yang merupakan tema pertama dari karyanya yang berjudul “The Reconstruction of Relegious Thought in Islam” dan bahkan merupakan tema pokok dalam pemikiran Iqbal[25].

Masih menurut dia, Islam pada hakekatnya menganjurkan dinamisme. Al-Qur’an senantiasa menganjurkan pemakaian akal di dalam menginterpretasikan ayat ataupun tanda yang ada dalam alam semesta, sebagaimana adanya rotasi bumi, matahari, dan bulan. Orang-orang yang tidak peduli dan tidak memperhatikan tanda-tanda tersebut akan buta terhadap masa yang akan datang. Konsep Islam tentang alam adalah dinamis dan senantiasa berkembang[26]. Islam menolak konsep lama yang menyatakan bahwa alam itu statis, dan mempertahankan konsep dinamisme serta menengahi adanya gerak dan perubahan dalam kehidupan sosial. Prinsip yang dipakai dalam gerak tersebut adalah ijtihad. Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam pembaharuan Islam.

Paham dinamisme yang dilontarkan Iqbal tertuang dalam syair-syairnya yang selalu mendorong manusia agar senantiasa bergerak dan tidak tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah mencipta. Maka Iqbal menyerukan kepada umat Islam agar membangun dan mencipta dunia baru[27]. Untuk mengembalikan semangat masyarakat sesuai dengan konsep Islam tersebut, Iqbal mengkritik hasil filsafat Plato dan Neo-Platonisme yang dianut dan berkembang di masyarakat Islam menjadi aliran tasawuf. Iqbal mengkritik faham Panteisme yang mempercayai adanya wahdah al-wujud. Faham ini menurutnya mendorong manusia menjauhkan diri dari persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan hidup. Karena hidup ini dianggap suatu khayalan sehingga tidak ada yang harus diperjuangkan. Hal inilah yang menyebabkan kejumudan umat Islam[28].

Dalam rangka mengatasi kejumudan di atas, Iqbal menawarkan sebuah diagnosis dengan menyatakan bahwa intelektualisme harus dibenarkan sesuai dengan semangat al-Qur’an. Al-Qur’an menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah alam, sejarah dan diri. Di dalam diri terdapat tiga sumber lagi yaitu serapan inderawi, rasio, dan intuisi. Ketiga sumber terakhir ini sekaligus sebagai penimba dan pengolahan bahan baku pengetahuan agar seseorang menjadi tahu[29].

Sebagai seorang pemikir dan sufi, Iqbal mempunyai konsep manusia ideal yang menjadi puncak tujuan dari tasawufnya. Dengan menempuh jalan yang tidak biasa dikenal oleh sufi-sufi lainnya[30]. Iqbal menyatakan bahwa puncak yang dituju oleh tasawufnya adalah insan al-kamil atau mardi’i khuda yaitu insan sebagai teman kerja Tuhan di muka bumi ini. Secara dialektis manusia mampu menyelesaikan ciptaan Tuhan yang belum selesai. Tuhanlah yang menciptakan bahan bakunya, sedangkan manusia yang mengelolanya menjadi barang-barang konsumtif[31].

Menurutnya, insan al-kamil adalah manusia yang telah mampu mengungkap dan membumikan sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya. Kendatipun demikian, kesadaran dirinya tidak luluh ke dalam kesadaran Tuhan, melainkan tetap mempunyai kesadaran yang utuh. Oleh karenanya ia mampu menjelaskan indikasi-indikasi kemampuannya secara analogis rasional. Dengan demikian corak tasawuf Iqbal adalah rasional transendental[32]. Dan inilah yang membedakan dengan faham kaum panteisme yang menyatakan bahwa tujuan tertinggi dan ideal manusia adalah untuk melenyapkan dan meleburkan dirinya dengan yang mutlak. Dengan demikian akan menghapuskan kesatuan individualitasnya[33].

Dalam mengcounter paham panteisme di atas, Iqbal mengemukakan suatu pemikiran yang sering disebut dengan filsafat ego. Menurutnya, ego merupakan suatu realitas yang terang benderang. Secara langsung kita dapat melihat bahwa ego itu nyata dan berwujud. Ego dinilainya sebagai poros dari segala aktivitas dan perbuatan kita. Ego merupakan intisari wujud kepribadian kita yang hanya dapat dirasakan oleh naluri manusia. Pada hakekatnya ia sebagai suatu yang dapat memberikan tuntunan, bebas dan abadi. Ego berkembang menjadi suatu wujud pribadi yang kuat dan penuh dengan tujuan oleh cita-cita dan aspirasi-aspirasi yang menggambarkan suasana lingkungan. Oleh karenanya, ego pun bergantung pada suatu hubungan yang diciptakannya dengan benda nyata, masyarakat, dan kenyataan-kenyataan[34].

Dalam masalah politik dan kenengaraan, banyak juga gagasan-gagasan yang disumbangkan Iqbal. Pemikiran Iqbal mengenai negara misalnya, ia mengisyaratkan bahwa negara Islam merupakan suatu masyarakat yang keanggotaannya berdasarkan keyakinan agama (the relegious faith) yang sama, dan bertujuan untuk merealisasikan suatu kebebasan (freedom), persamaan (egality), dan persaudaraan (brotherhood)[35]. Dengan konsep seperti ini, ia menolak gagasan nasionalisme wilayah yang dianggapnya bertentangan dengan persaudaraan secara universal sebagaimana yang ditegakkan Rasulullah SAW.

Dalama kesempatan lain, ia juga menolak setiap pemahaman apa saja yang berkaitan dengan bangsa dan negara sebagai dasar masyarakat Islam. Nasionalisme menurut Iqbal, merupakan suatu alat yang bisa digunakan untuk memecah belah dunia muslim yang akan berakibat pada adanya pemisahan sesama manusia, terjadinya perpecahan antar bangsa-bangsa dan adanya pemisahan agama dari politik. Maka dari itu ia dalam bukunya “Political Thought in Islam”[36] menegaskan bahwa cita-cita politik Islam adalah terbentuknya suatu bangsa yang lahir dari suatu internalisasi semua ras dan kebangsaan. Terpadunya ikatan batin masyarakat ini, muncul tidak dari kesatuan geografis dan etnis. Akan tetapi dari kesatuan cita-cita politik dan agamanya. Keanggotaan atau kewarganegaraannya didasarkan atas suatu pernyataan kesatuan pendapat yang hanya berakhir apabila kondisi ini tidak berlaku lagi.

Secara geografis, pemerintahan Islam adalah trans-nasional yang meliputi seluruh dunia[37]. Kendatipun demikian, setiap negara tidak perlu khawatir akan kehilangan kedaulatan negaranya masing-masing. Karena struktur negara Islam akan ditetapkan tidak dengan kekuatan fisik, akan tetapi dengan daya kekuatan spiritual dari suatu cita-cita bersama. Meskipun Iqbal telah mengabdikan sebagian besar pemikiran dan tulisannya untuk memahami tentang teori politik masyarakat Islam dan mengungkapkan semangat pan-Islam, namun ia menyadari bahwa zamannya masih mengharuskan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada.

Jadi, bagi Iqbal masyarakat Muslim harus menyusun suatu tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pertama, tiap negara muslim harus memperoleh kemerdekaannya, mengurusnya sendiri, dan membereskan rumah tangganya sendiri. Hal ini akan menjadikan masing-masing negara memiliki kekuasaan yang diperlukan untuk melaksanakan tujuan. Kedua, berkumpul bersama dan membentuk suatu keluarga kuat yang terdiri atas republik-republik dengan ikatan yang mempersatukannya adalah spiritual Islam.

Dalam kasus umat Islam di India, Iqbal menyatakan bahwa kaum muslimin di negeri ini menghadapi bahaya kehilangan kebebasannya untuk berkembang. Sementara menurutnya, setiap muslim memerlukan komunitas Islam guna perkembangannya[38]. Statement seperti ini sengaja dilontarkan Iqbal menyusul penolakannya terhadap pembentukan suatu negara India sekuler yang menggabungkan Hindu dan Muslim di mana Islam dapat dijadikan hanya sekedar etika pribadi yang terpisah dari lingkungan sosio-politik.

Berpijak dari sosio-historik negara India, Iqbal mengakui bahwa masyarakat Hindu dan Muslim telah memelihara konsistensi dan identitas bersama mereka dengan penuh kewaspadaan dan tidak memperlihatkan adanya kecenderungan dependensi ke dalam suatu keutuhan yang lebih besar. Lebih-lebih terhadap semua upaya untuk menemukan suatu prinsip keserasian intern telah gagal[39]. Oleh karenanya, menurut Iqbal komunalisme tampaknya dibutuhkan untuk memelihara identitas Muslimin dan cara hidup mereka. Iqbal mengatakan, umat Islam India berhak untuk berkembang penuh dan bebas atas dasar kebudayaan dan tradisinya sendiri di tanah air Indianya sendiri. Mengingat umat Islam tidak bisa hidup bersama dengan orang Hindu di India sebagaimana disinggung di atas, maka umat Islam harus hidup dalam satu unit atau negara sendiri[40].

Berangkat dari pemikiran di atas, pada tahun 1930 di depan sidang tahunan All India Muslim League untuk pertama kalinya di hadapan umat Islam India, Iqbal mengajukan pendirian suatu negara Muslim yang berdiri sendiri. Dalam pidato sidang tahunan tersebut ia mengatakan:

“Saya ingin melihat Punjab, Propinsi North West Frontier, Sind, dan balukistan, bergabung menjadi satu negara. Mempunyai pemerintahan sendiri di bawah kerajaan Inggris atau di luar kerajaan Inggris, pembentukan Negara Muslim Barat Laut India tampaknya menjadi tujuan akhir umat Islam, paling tidak bagi umat Islam India Barat Laut.[41]

Gagasan Iqbal tersebut tampaknya menjadi inspirasi bagi umat Islam India untuk mendirikan sebuah negara Islam. Di bawah pimpinan Muhammad Ali Jinnah, murid dan sahabat Iqbal – umat Islam India berhasil mendirikan sebuah negara Islam yang sekarang lebih dikenal dengan negara Pakistan[42]. Negara tersebut secara resmi terpisah dari negara India mulai tahun 1947, sembilan tahun setelah Muhammad Iqbal meninggal dunia.

E. Penutup

Menyimak dari paparan di atas kita dapat mengambil ibarat bahwa ijtihad merupakan salah satu paradigma yang sangat krusial dalam khazanah peradaban Islam. Ia dapat di jadikan sebagai landasan dalam pembaharuan pemikiran Islam yang secara historik pernah mengalami masa yang sering kita sebut sebagai fase stagnasi atau kebekuan berpikir.

Ijtihad sebagai salah satu khazanah Islam ini, tampaknya juga digunakan oleh Muhammad Iqbal – salah seorang pembaharu Pakistan – sebagai salah satu alat untuk mengadakan pembaharuan di tanah airnya. Dia dengan semangat yang progresif ternyata telah mampu membangunkan kondisi umat Islam yang selama berabad-abad mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Dengan berbagai keilmuan dan keahlian yang dimilikinya, akhirnya ia bisa menyetarakan negara Pakistan sejajar bahkan bisa berkompetisi dengan negara-negara lain yang secara empirik telah mengalami kemajuan peradaban. Dan ternyata atas keberhasilan dia di dalam memperbaharui kondisi umat Islam di Pakistan ini ternyata membawa implikasi pada ketenarannya di kalangan para pemikir Islam.


[1] Ide ini muncul sekitar dua abad setelah wafatnya Rasulullah SAW yang pada esensinya merupakan periode formatif. Pada periode ini ajaran Islam mengalami kristalisasi dalam bentuk yang komprehensip dan universal. Lebih-lebih setelah Islam menempati sebagai agama dan sekaligus sebagai great tradition yang berhadapan dengan berbagai budaya lokal, berbagai paham non-Islam, dan aneka bentuk pemerintahan yang ada baik di dunia Timur sendiri maupun di Barat. Selain itu pada periode ini justru merupakan suatu periode dalam sejarah peradaban Islam yang sarat dengan berbagai konflik yang sangat tajam di antara berbagai aliran dalam masyarakat Islam – terutama yang terkait dengan persoalan ideologi, sosial, politik, moral, dan spiritual. Lihat: John J. Donohoe dan John L. Esposito, Islam in Transition : Muslim Perspective, alih bahasa: Machnun Husein dalam “Islam Dan Pembaharuan: Ensiklopedi Masalah-Masalah” (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), v

[2] Persoalan ini merupakan suatu persoalan yang sangat krusial untuk kita selesaikan. Tampaknya dalam hal ini Prof. KH. Ibrahim Husen mengajukan beberapa tawaran. Pertama, dia menganjurkan agar umat Islam meninggalkan pemahaman secara harfiyah (literal) terhadap al-Qur’an dan menggantinya dengan pemahaman yang berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur’an. Kedua, mengambil Sunnah Rasul dari sisi jiwanya untuk Tashri al-Ahkam. Ketiga, mengganti pendekatan ta’abbudi (spiritualisasi) terhadap nash-nash dengan pendekatan ta’aqquli (rasionalisasi). Keempat, melepaskan diri Masalih al-‘Illat gaya klasik dan mengembangkan formulasi ‘illat hukum yang baru. Kelima, mendukung hak pemerintah untuk mentakhsis keumuman nash dan membatasi kemutlakannya. Lihat: Taufiq Adnan Kamal, Islam Dan Tantangan Modernitas (Bandung: Mizan, 1994), 15.

[3] Dalam diskursus studi agama, fenomena keagamaan manusia dapat dilihat dari berbagai sudut pendekatan (the corner approach). Ia tidak hanya dilihat dari pendekatan normativitas wahyu (devine inspiration normativity) semata, akan tetapi ia juga harus dilihat dari pendekatan historisitas pemahaman dan interpretasi terhadap ajaran agama (historicity understanding and interpretations relegious doctrine). Pada tataran normativitas ajaran wahyu ini dikemas, dibakukan, dan ditelaah melalui doktrin teologis. Sedangkan pada tataran historisitas keberagamaan manusia ditelaah melalui berbagai sudut pandang pendekatan historik, filosofis, psikologis, sosiologis, kultural maupun antropologis. Lihat: Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas ? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), v.

[4] Ide penutupan ijtihad ini ditengarai karena adanya kekhawatiran munculnya penafsiran kembali terhadap ajaran Islam secara perorangan dan munculnya perpecahan. Menurut ajaran klasik, cakupan ijtihad secara terus menerus dipersempit, mengingat banyak generasi ‘ulama di kemudian hari yang didukung oleh ijma’ menutup berbagai kesenjangan dalam sistem ajaran dan hukum Islam. Lihat: H.A.R. Gibb, Aliran-Aliran Modern Dalam Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1978), 20.

[5] Menurut al-Najjar, bahwa persoalan yang dihadapi umat Islam dewasa ini bukan terletak pada nash agama atau ketiadaan jalan yang mengarah pada tujuan yang hendak dicapai. Akan tetapi terletak pada tidak adanya pemahaman terhadap ajaran agama, tidak adanya pembuatan landasan yang kokoh untuk berinteraksi dengannya, serta bagaimana caranya membumikan ajaran tersebut dalam kehidupan nyata umat manusia. Padahal dalam pembumian ajaran agama itu sendiri ada dua fase yang harus ditempuh. Pertama, fase pembuatan formulasi (siyaghah). Pada fase ini merupakan suatu fase penyiapan rencana yang sahih yang didasarkan pada hasil pemahaman atas hakekat agama yang membentuk perhatian secara khusus. Kedua, fase implementasi. Sebuah fase perencanaan pelaksanaan yang sahih terhadapa kehidupan nyata umat manusia dengan menyelaraskan tatanan pada hukum terhadap seluruh segi yang terdapat dalam kehidupan nyata. Lihat: Abdul al-Najjar, Fi Fiqh al-Tadayyun Fahman Wa Tanzilan, alih bahasa: Bahrudin Fanani dalam “Pemahaman Islam Antara Ra’yu Dan Wahyu” (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), xxxiv.

[6] Lihat: http: // www. jema’at. org./qa/ijtehad.html, Ijtihad, Allama Iqbal, and Islamic Movement (Pakistan: Jema’at -e- Islami, 2001), 1.

[7] Lihat: Taufiq Adnan Kamal, Islam…, 36.

[8] Ahmad Muawid, Muhammad Iqbal: Hayatuh Wa A Tharuhu (Kairo: Al-Hai’ah al-Misriyah al-Kutub, 1980), 9. Lihat pula: John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia Of The Modern Islamic World (New York: Oxford University Press, 1995), 221.

[9] AH. Biruni, MA. Maker Of Pakistan And Modern Muslim India (Pakistan: Kashmiri Bazar – Lahore, 1950), 169.

[10] http.//www.pak.org/person/Iqbal.html, Muhammad Allama Iqbal (Pakistan: jema’at -e- Islami, 2001), 1. Lihat pula: Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), 167.

[11] Thomas Arnold adalah salah seorang guru besar di Government College yang memberikan saran Iqbal agar melanjutkan program doktoral di Universitas Cambridge. Dialah orang yang pertama kali menanamkan benih-benih pemikiran filsafatnya terhadap Iqbal sehingga ia menjadi seorang filosof kenamaan dengan salah satu karya monumentalnya yang berjudul “The Development Of Metaphysies In Persia”, sebuah desertasi doktoralnya yang ia peroleh. Lihat: IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1992), 433.

[12] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern Di India Dan Pakistan (Bandung: Mizan, 1993), 173.

[13] Danusiri, Epistemologi Dalam Tasawuf Iqbal (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 4.

[14] Ibid. 5.

[15] Lihat: Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Dalam Islam (Jakarta: Tintamas, 1966), x-xi.

[16] John J. Donohue dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan…, 189.

[17] Lihat: Abdul Sani, Lintasan Sejarah…, 168.

[18] John J. Donohue dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan…, 155.

[19] Mukti Ali, Alam Pemikiran Islam…, 189.

[20] Lihat: Allama Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Relegious Thought in Islam (Pakistan: Institute of Islamic Culture, 1989), 5.

[21] Lihat: John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia…, 223.

[22] C.A. Qadir, Philosophy and Sciencein The Islamic World (London: Routledge, 1991), 163.

[23] Ibid. 164.

[24] Ibid.

[25] Lihat: Iqbal, Pembangunan Kemabali Alam Pikiran Islam (Jakarta: Bulan Bintang, tt), xxxi. Lihat pula: Allama Muhammad Iqbal, Reconstruction of Relegious…, 6.

[26] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), 192.

[27] Ibid.

[28] Anwar Wahdi Hasi, Dimensi Manusia Menurut Iqbal (Surabaya: Usaha Nasional, tt), 31.

[29] Danusiri, Epistemologi…, 149.

[30] Konsep tersebut merupakan konsep yang menjadi tujuan bagi para sufi di dalam menjalani hidupnya. Mereka di dalam menjalani hidupnya tersebut harus melalui beberapa tahapan atau lebih sering dikenal dengan maqamat. Di dalam maqamat tersebut ada beberapa proses yang harus dilalui, antara lain: syauq (cinta atau rindu), faqr, bersemangat dan berkeberanian, toleransi, kasb al-halal, bekerja dan kreatif. Lihat: Anwar Wahdi Hasi, Dimensi Manusia…, 34.

[31] Danusiri, Epistemologi…, 150.

[32] Ibid., 151.

[33] Bandingkan dengan konsep wahdah al-wujudnya Abu Yazid al-Bustomi dan konsep al-hululnya al-Junaidi. Yaitu sebuah konsep yang ada dalam tasawuf di mana apabila seseorang telah mencapai pada maqam tersebut dirinya akan merasakan seakan-akan jasmaninya telah menyatu dengan Dzat Tuhan sebagaimana yang dialami oleh Syeh Siti Jenar. Saiydain, Percikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan (Bandung: CV. Diponegoro, 1996), 25.

[34] Ibid., 32.

[35] John L. Esposito, Dinamika…, 224.

[36] Lihat: Allama Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Relegious…, 8.

[37] John L. Esposito, Dinamika…, 225.

[38] Ibid.

[39] Kegagalan keserasian ini paling tidak terlihat dari berbagai bentuk ketidakadilan pemerintah India terhadap umat Islam seperti adanya monopoli umat Hindu dalam hal kesempatan kerja di kantor-kantor pemerintah, Hinduisasi Universitas di Punjab, dan masih banyak lagi yang ternyata sering menimbulkan huru hara kamunal di antara umat Islam dan Hindu. Lihat: Mukti Ali, Alam Pemikiran Islam…, 181.

[40] John L. Esposito, Dinamika…, 226.

[41] Mukti Ali, Alam Pemikiran…, 182.

[42] Munculnya nama Pakistan ini atas usulan Chaudry Rahmat Ali (1879-1957), salah seorang mahasiswa Cambridge asal India yang concern dengan gagasan politik Iqbal. Istilah Pakistan itu sendiri merupakan akronim dari beberapa huruf pertama dari lima wilayah yang ada di bagian utara India. Huruf P merupakan akronim dari Punjab, huruf “A” menunjukkan daerah Afghan, huruf “K” menunjukkan daerah Kashmir, huruf “S” menunjukkan daerah Sindh dan “Tan” menunjukkan daerah Baluchistan. Lihat: Ibid. 163.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: