The Critique Of Maslow’s Notion Of Peak Experience

16 01 2009

THE CRITIQUE ON MASLOW’S NOTION OF PEAK EXPERIENCE

Erdy Nasrul[1]

Abstract

Several psychological discussions denoted that psychology today is secular. It can be clearly approved by knowing any psychological matters which are not dealing with religious atmosphere. Peak experience of Abraham Maslow is one of them. Althought Maslow remarked that peak experience is also religious, peak experience must accord to any worldview whether it is religion or anti-religion. Then the question appears of what peak experience resulted because of its accordance with both. This writing infered that the peak experience of Maslow did not result religious causes for any religious matter must be dealing with God not human.

Keywords: peak experience, Maslow,

I. Foreword

Peak experience is the most beautiful moment along the history of human life. It is ecstatic moment or moment Read the rest of this entry »

Advertisements




Gugatan Terhadap Mushaf Usmani

16 01 2009

GUGATAN TERHADAP OTORITAS MUSHAF UTSMANI DAN TAFSIR QAT’I

Oleh: Dr. Ugi Suharto


Upaya Menggugat Mushaf Utsmani

Telah berkata Abu Ubayd al-Qasim bin Salam: “Usaha Utsman (r.a) mengumpul-susun al-Qur’an akan tetap dan senantiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang di kalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang tersingkap, dan maksud buruk merekalah yang terungkap.”[1] Kata-kata ini diucapakan oleh Abu Ubayd (w. 224/838) lebih kurang seribu dua ratus tahun yang lalu dalam menanggapi usaha sia-sia para pembantah yang ingin meruntuhkan otoritas Mushaf Utsmani ketika itu. Beliau yang merupakan salah seorang ulama yang mempunyai wewenang ilmiah dalam berbagai disiplin Islam,[2] termasuklah Ulum al-Qur’an, mengisyaratkan bahwa setiap bantahan terhadap Mushaf Utsmani akan dibalas-jawab oleh para ulama Islam, dan ditunjukkan kecacatan dan kelemahannya. Satu abad kemudian, seorang sarjana al-Qur’an yang bernama Abu Bakr al-Anbari (w. 328/939), dalam pembelaannya terhadap Mushaf Utsmani misalnya pernah menulis buku khusus dengan judul “al-Radd ala Man Khalafa Mushaf Utsman” (Sanggahan Terhadap Orang yang Menyangkal Mushaf Utsman).[3] Begitu juga di abad ke tujuh Islam, al-Qurtubi (w. 671/1272), seorang ahli tafsir yang terkemuka dan masyhur, dalam mukaddimah kitab tafsirnya menyediakan satu bab khusus mengenai hujah-hujah bagi membalas tuduhan bahwa dalam Mushaf Utsmani terdapat penambahan dan pengurangan. Judul bab itu ialah “Bab Ma Ja’a min al-Hujjah fi al-Radd ‘ala Man Ta’ana fi al-Qur’an wa Khalafa Mushaf Utsman bi al-Ziyadah wa al-Nuqsan” (Bab Mengandungi Hujah dalam Menyanggah Orang yang Mencela al-Qur’an dan Menyangkal Mushaf Utsman dengan [tuduhan] adanya Penambahan dan Pengurangan).[4]

Mengapa Mushaf Utsmani ada yang menyangkal? Jawabannya terdapat pada sejarah al-Qur’an itu sendiri dan juga riwayat ataupun berita-berita mengenainya. Di antaranya adalah berita mengenai adanya beberapa mushaf yang dimiliki Sahabat yang tidak sama dengan Mushaf Utsmani, seperti Mushaf Ubayy bin Ka’b dan Mushaf Ibnu Mas’ud yang satu sama lain agak berbeda dari segi susunan tertibnya, selain dari tiada terdapatnya beberapa surah misalnya pada Mushaf Ibnu Mas’ud, dan adanya Read the rest of this entry »





Konsep Negara Menurut Al Ghazali

16 01 2009

Drs. Rif’at Husnul Ma’afi, M.A

Pendahuluan

Sarjana Islam pertama yang menuangkan gagasan atau teori politiknya dalam suatu karya tulis adalah Syihabuddin Ahmad Ibnu Abi Rabi’, yang hidup di Baghdad semasa pemerintahan Mu’tasim, khalifah Abbasiyah ke delapan. Setelah itu menyusul pemikir-pemikir seperti al-Farabi, al-Mawardi, al-Ghazali, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun yang hidup pada abad XIV masehi.[1] Mereka itu sebagai eksponen-eksponen yang mewakili pemikiran politik di dunia Islam pada zaman klasik dan zaman pertengahan.

Paling istimewa dari keenam pemikir di atas adalah al-Ghazali – pembaharu abad ke V-yang pernah mengeluarkan pemikiran politiknya dengan mengecam para ulama yang bersikap masa bodoh terhadap keadaan sehingga menimbulkan kedzaliman para penguasa. Lisan mereka telah terikat oleh ambisi-ambisi duniawi, sehingga mereka membisu dan jika mereka berkata, perkataan mereka tidak didukung oleh tingkah laku, sehingga dakwahnya tidak berhasil.[2] Inilah penggalan sekelumit pemikiran al-Ghazali, seorang teolog terkemuka, ahli hukum, pemikir yang orisinal, ahli tasawuf yang terkenal dan mendapatkan julukan Hujjah al-Islam, yang akan dipaparkan dalam makalah ini.

Dalam makalah yang sederhana ini akan dipaparkan sekilas beografi al-Ghazali dan pemikiran politiknya tentang: asal mula timbulnya negara, teori tentang pemimpin negara, sumber kekuasaan dan kewenangan Read the rest of this entry »





Rekonstruksi Wacana Turats

16 01 2009

(Usaha Mencari Akar-akar Polemik seputar Tradisi Islam)

Asif Trisnani

Pendahuluan

Ketika suatu tradisi (turats) didefinisikan, tidak boleh diasumsikan seakan-akan ia memiliki suatu kehidupan yang lepas dari pengemban-pengemban manusianya. Pengharapan-pengharapan budaya yang diwariskan pada masa tertentu membentuk bagian dari realitas-realitas yang harus diperhitungkan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. Masyarakat tersebut tidak akan punya pengaruh apapun kecuali manakala mereka berinteraksi dengan lingkungan yang sebenarnya dan dengan kepentingan-kepentingan yang berlaku. Perlu diingat, bahwa determinasi turats selalu dibatasi-dalam waktu yang lama-oleh kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa relevan dengan kondisi-kondisi yang ada.

Relevansi yang berkesinambungan sangat penting untuk diingat terutama ketika sedang membuat perbandingan lintas turats yang Read the rest of this entry »





Barat dan Islam: Peradaban Ilmu dan Seni?

15 01 2009

Barat dan Islam: Peradaban Ilmu dan Seni?*

Mohammad Muslih**

Selama berabad-abad, Barat selalu dilihat sebagai guru, karena lebih maju dan modern. Sebaliknya Timur selalu dianggap tradisional sehingga perlu upaya modernisasi dan sivilisasi. Gambaran ini merupakan kenyataan ataukah lebih sebagai bangunan image. Sekedar bangunan image ataukah sudah menjadi kesadaran. Maka melihat peradaban Barat dan Timur lebih dari sekedar membandingkannya, lebih jauh dari itu mestinya terlibat upaya penelusuran bangunan image dan kesadaran tentang keduanya.

Ibarat sebuah bangunan, peradaban itu memiliki fondasi, tiang penyangga, atap dan berbagai asesoris. Maka Read the rest of this entry »





Rekonstruksi Pemikiran Islam

15 01 2009

(Telaah Historik Atas Paradigma Pembaharuan Islam Muhammad Iqbal)

Oleh: Rif’at Husnul Ma’afi

A. Mukaddimah

Pembaharuan Islam atau tajdid[1] merupakan sebuah paradigma berpikir dalam khzanah keislaman yang akhir-akhir ini menjadi perdebatan di kalangan para intelektual Muslim. Paradigma ini sebetulnya telah muncul pada beberapa abad yang telah silam. Hanya saja dalam perkembangannya ia tidak difungsikan lagi sebagaimana semestinya. Ia yang seharusnya difungsikan sebagai upaya untuk merombak dan menafsirkan ajaran Islam yang tertuang di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah secara kontekstual, pada kenyataannya hanya difahami secara tekstual. Akibatnya muncullah stagnasi pemikiran Islam[2]. Read the rest of this entry »





Minoritas Muslim Thailand Selatan

15 01 2009

By: Faruq Junaidi

Thailand merupakan salah satu negara diantara negara negara di kawasan asia tenggara. Secara geografis, kawasan asia tenggara merupakan kawasan antara benua Australia dan daratan China, daratan India sampai laut China. dengan begitu, thailand cukup mudah untuk dijangkau para pelancong dari zaman ke zaman untuk mencari penghidupan maupun penyebaran agama.

Mayoritas penduduk Thailand beragama Budha, hanya sedikit yang beragama Islam dan Konghucu. Akan tetapi umat Islam di Thailand merupakan minoritas yang Read the rest of this entry »